Maandag, 17 Junie 2013

Antonio Gramsci ( tokoh filsafat )

Antonio Gramsci

            Antonio Gramsci lahir di Ales, sebuah kota kecil di Sardinia daerah miskin Italia, pada tanggal 21 Januari 1891. Ia memasuki perguruan tinggi setelah memenangkan beasiswa di Universitas Turin pada tahun 1911. [1]Itulah tahun-tahun di mana ia banyak membaca dan belajar tentang pemikiran Benedetto Croce, tokoh filsuf idealis paling berpengaruh terhadap pemikiran Marxisme di Italia yang kelak banyak mempengaruhi Gramsci sejak menjadi mahasiswa, minat Gramsci dalam bidang politik dan aktivitas gerakan sosial berkembang terutama gerakan kaum buruh, serta mendorongnya bergabung dengan partai sosialis Italia.
            Salah satu gagasan sentral Gramsci adalah tentang hegemoni dan perang posisi, melalui konsep ini Gramsci telah membalikkan pandangan tradisional Marxisme bahwa revolusi proletar akan datang secara niscaya, sebagaimana siang menggantikan malam. Revolusi sosialis berkebalikkan dengan Marxisme. Revolusi sosialis baru bisa diperoleh melalui tekad dan upaya panjang sedemikian rupa sehingga kelas-kelas bawah meraih kepemipinan kultural, intelektual, dan ideologis dalam kehidupan masyarakat.
            Gramsci menuliskan pemikirannya dengan bertitik tolak pada kritiknya terhadap pandangan Marxisme ortodoks, terutama kerangka teoritis Nikolai Bukharin dalam sebuah buku berjudul The Theory of Historical Materialisme, yang dimaksudkannya sebagai sebuah karya textbook tentang Marxisme-Leninisme untuk para kader partai komunis yang lebih tinggi. Buku tersebut berisi ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme sebagai pandangan dunia proletariat, sekaligus upaya Bukharin guna menyatukan sosiologi kontemporer untuk menunjukkan bahwa materialisme historis adalah sosiologis tentang proletariat dengan kadar kepastian ilmiah.
            Gramsci menolak pandangan tersebut dan menganggap materialisme sejarah Soviet ortodoks itu telah mereduksi metode dialetik kritis terhadap masyarakat menjadi seperangkat prinsip partai yang bersifat dogmatis dengan mengorbankan pembebasan diri proletariat. Tambahan lagi, Gramsci juga keberatan dengan maksud buku itu yang diperuntukkan bagi komunitas pembaca elite yang disebutnya”bukan intelektual profesional” sehingga menciptakan kekeliruan besar karena telah mengabaikan “filsafat massa rakyat” atau filsafat yang lahir dari akal sehat rakyat sendiri. Dengan kata lain, pandangan Bukharin tersebut adalah sebuah sistem filsafat(materialisme historis) yang asing serta tidak dikenal oleh massa rakyat dan hendak dipaksakan begitu saja dari luar kesadaran diri proletar. Bagi Gramsci, kesadaran politik proletariat harus dibangun melalui kepercayaan-kepercayaan dan akal sehat mereka sebagaimana terungkap dalam cerita-cerita serta agama rakyat, dan bukan semata-mata di impose dari luar (elite). sebab, yang belakangan ini merupakan cerminan dari kekuatan kultural kohesif atau hegemoni yang dijalankan oleh kelas-kelas yang berkuasa.
            Kehidupan Gramsci sebagai aktivis telah membentuk kepribadiannya dan minatnya untuk menekuni bidang media massa, kebudayaan, serta kritik ideologi menjadi semakin kokoh. Bahkan, ia mengembangkan pemikiran dan konsepsi ideologi, serta menentang ideologi dominan yang dikembangkan oleh Negara. Pada tahun 1922, ia harus hijrah ke Rusia untuk memperjuangkan penerapan watak demokratis paham sosialisme. Namun, pada tahun 1924, ia kembali ke Italia dan melakukan berbagai usaha untuk menciptakan perubahan serta upaya transformasi terhadap partai komunis.[2] Ia akhirnya berhasil mengembangkan partai komunis menjadi partai yang berakar pada gerakan massa.
            Pada tahun 1928, Gramsci dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh pemerintah fasis, Mussolini. Pemenjaraan Gramsci oleh Mussolini sebenarnya dimaksudkan untuk membungkam Gramsci. Akan tetapi, justru di dalam penjara itulah Gramsci menuliskan pemikiran-pemikiran briliannya, mulai pemikiran tentang peran intelektual, hegemoni, Negara, hingga civil society (masyarakat sipil). Semua pemikirannya dituliskan dalam catatan hariannya di bawah ketatnya pengawasan Negara dan dalam suasana pesakitan yang luar biasa. Akhirnya, ia berhasil menulis sebanyak 34 buku catatan harian yang kelak diterbitkan dalam bentuk buku yang terkenal dengan The Prison Notebooks.
            Ternyata, Gramsci tidak menyelesaikan masa hukumannya secara penuh selama 20 tahun. Sebab, pada 27 April 1937 ia meninggal dunia di dalam kamar penjaranya di Turin. Untunglah catatan-catatan hariannya berhasil diselundupkan Tatiana dan dikirimkan ke Moskow melalui saluran diplomatik. Dari catatan harian itulah akhirnya diketahui secara luas pikiran-pikiran revolusioner Gramsci.
            Gramsci hidup pada masa kehancuran revolusi sosial di Eropa Barat (1918-1923) dan menyaksikan organisaasi buruh serta gerakan sosialis dihancurkan oleh fasisme pada 1922-1937. Ia menyaksikan betapa kuatnya komitmen sebagian besar masyarakat untuk menegakkan Negara modern, kendati tengah menghadapi krisis ketika mereka kehilangan harapan di dalamnya. Anehnya, mereka merasa memperoleh solusi dalam fasisme dan bukan dalam rezim sosialisme.
            Dari fenomena tersebut, Gramsci tertarik untuk melihat bagaimana sesungguhnya kekuasaan itu harus ditegakkan. Melalui catatan hariannya yang ia tulis di dalam penjara The Prison Notebooks, ia mempertanyakan mengapa dan bagaimana Negara modern menikmati konsensus, serta mengapa dan bagaimana kaum sosialis menjamin konsensus itu dijadikan dasar bagi tumbuhnya konsensus baru di tengah-tengah nilai sosialis.
            Bertolak dari latar belakang historis semacam itu Gramsci merasa menemukan masalah, namun tidak memperoleh jawaban dalam analisis Marx. Meski tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi Marxian, karena ia masih percaya masyarakat kapitalisme selalu melahirkan kontradiksi di dalamnya, ia kemudian mencari jawabannya sendiri dengan mendasarkan kepada karya-karya Labriola, Sorel, serta Crocel, dan berhasil mempersembahkan teori politik tentang bagaimana kekuasaan bekerja di dalam Negara modern. Ia melakukan analisis, antara laindengan memberikan kritik terhadap kegagalan prediksi Marx. Bukti kegagalan revolusi sosialisme karena tidak terjadi revolusi kaum buruh telah mematahkan argumentasi Marx yang dinilainya deterministik, fatalistik, dan mekanistik.
            Gramsci mengakui ada keteraturan sejarah, tetapi sejarah itu tidak berjalan secara otomatis dan bukan tak terelakkan. Perkembangan sejarah terjadi karena tumbuh kesadaran massa terhadap situasi dan sistem yang dihadapi. Oleh kerena itu, massa harus bergerak untuk melakukan revolusi dan hal ini dapat terjadi jika massa memiliki kesadaran terhadap realitas atau sistem yang dihadapi. Tekanan structural, terutama ekonomi diakui memang ada, namun ia bukan penyebab bagi massa bangkit untuk membangun revolusi. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah revolusi ideologi. Tetapi, revolusi ideologi ini tidak akan muncul dari massa melainkan harus didorong oleh kelas intelektual yang sadar. Sebab, di mata Gramsci massa pada dasarnya tidak memiliki self-consciousness. Meski demikian, begitu memperoleh dorongan dari ide para elite massa diyakini Gramsci akan memungutnya dan menjadikannya sebagai dasar melakukan gerakan revolusi.
            Dari ranah makro (subjektif), Gramsci mempersoalkan ide kolektif dan bukan struktur sosial. Di sini, Gramsci memperlihatkan kecenderungannya kepada perspektif Hegelian ketimbang Marx sendiri. Dalam hal ini, ia mengungkapkan kata kunci hegemoni, yaitu sebuah sistem pemerintahan suatu Negara yang didasarkan pada pembentukan atau pembinaan konsensus melalui kepemimpinan budaya. Praktik hegemoni dilakukan secara terus-menerus terhadap kekuatan oposisi agar mau memilih sikap konformistik, sehingga menimbulkan disiplin diri untuk menyesuaikan dengan normal-normal yang diputuskan oleh Negara dengan keyakinan bahwa apa yang telah diputuskan Negara tersebut merupakan cara terbaik untuk bertahan (survive) dan meraih kesejahteraan. Dalam hal ini, Gramsci hendak memperlihatkan peran kaum intelektual yang bekerja atas nama kapitalisme dengan menempuh kepemimpinan budaya dengan persetujuan massa. Jika ingin revolusi berhasil kepemimpinan budaya harus hadir. Sebab, menurutnya revolusi tidak cukup dilakukan dengan cara menguasai ekonomi dan aparatur Negara tidak seperti pandangan Marx.
            Pemikiran penting Gramsci adalah tentang hegemoni. Konsep hegemoni dikembangkan Gramsci atas dasar dekonstruksinya terhadap konsep-konsep Marxis ortodoks (konsep yang menerima doktrin Marx sebagai kebenaran mutlak). Gramsci sebagaimana teoretikus kontemporer, seperti Terry Eagleton, Fredrick Jameson, dan Mikhail Bakhtin menganggap Marx tak lebih hanya sebagai sumber inspirasi untuk melakukan dekonstruksi.
            Titik awal konsep Gramsci tentang hegemoni adalah suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan cara kekerasan dan persuasif. Gramsci menggunakan centaur mitologi Yunani setengah binatang dan setengah manusia sebagai simbol dari “perspektif ganda” suatu tindakan politik, yakni kekuatan dan konsensus, otoritas dan hegemoni, serta kekerasan dan kesopanan. Dari sinilah Gramsci melihat bahwa hegemoni bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan, melainkan hubungan persetujuan dengan menggunakan kepemimpinan politik dan ideologis. Hegemoni adalah suatu organisasi konsensus. Dalam Prison  Notebooks, Gramsci menggunakan kata direzione ( kepemimpinan atau pengarahan) secara bergantian dengan egemonia (hegemoni) dan berlawanan dengan dominazione (dominasi).[3]
            Konsep Gramsci tentang hegemoni berkaitan erat dengan konsep Lenin. Menurut Lenin, hegemoni merupakan strategi untuk revolusi suatu strategi yang harus dijalankan oleh kelas pekerja dan anggota-anggotanya guna memperoleh dukungan dari mayoritas. Gramsci menambahkan dimensi baru pada masalah ini dengan memperluas pengertiannya, sehingga hegemoni juga mencakup peran kelas kapitalis beserta anggotanya, baik dalam merebut kekuasaan Negara maupun mempertahankan kekuasaan yang sudah diperoleh. Gramsci membedakan dominasi (kekerasan) dengan kepemimpinan moral dan intelektual. Berbeda dengan Lenin yang melihat hegemoni dalam pengertian aliansi antarkelas atau kelompok kelas, Gramsci menambahkan dimensi baru yang amat penting dengan mengajukan konsep kerakyatan. Menurut Gramsci, suatu kelas tidak dapat meraih kepemimpinan nasional dan menjadi hegemonik, jika kelas itu hanya membatasi pada kepentingan mereka sendiri. Sebaliknya, mereka harus memperhatikan tuntutan dan perjuangan rakyat yang tidak memiliki karakter kelas yang bersifat murni. Jadi, hegemoni memilki dimensi nasional kerakyatan di samping dimensi kelas. Hegemoni memerlukan penyatuan berbagai kekuatan sosial yang berbeda ke dalam sebuah aliansi yang luas, yang mengungkapkan kehendak kolektif semua rakyat, sehingga masing-masing kekuatan ini dapat mempertahankan otonominya sendiri dan memberikan sumbangan dalam gerak menuju sosialisme. Strategi semacam inilah yang disebut Gramsci sebagai peran posisi.



[1]  Majid Fakhry, A History of Muslim Philosophy, Terj. Mulyadi Kartenegar, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), hlm. 397
[2]  Muhammad Saghir Hasan Al-Ma’sumi, “Ibnu Bajjah”, dalam M.M.Syarif.hlm. 507. (Selanjutnya disebut Muhammad Saghir, Ibnu Bajjah).
[3]  Muhammad Saghir, Ibnu Bajjah, op.cit., hlm. 511.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking