Arthur
Schopenhauer
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke:Arthur Schopenhauer
|
|
Lahir
|
|
Meninggal
|
|
Era
|
|
Tradisi
|
|
Minat utama
|
|
Gagasan penting
|
|
Tanda tangan
|
Arthur
Schopenhauer adalah seorang filsuf Jerman yang melanjutkan tradisi filsafat pasca-Kant. Schopenhauer lahir di Danzig pada tahun 1788. Ia menempuh
pendidikan di Jerman, Perancis,
dan Inggris. Ia mempelajari
filsafat di Universitas
Berlin dan mendapat gelar doktor di Universitas Jena pada
tahun 1813. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Frankfurt, dan meninggal
dunia di sana pada tahun 1860. Dalam perkembangan filsafat, Schopenhauer dipengaruhi
dengan kuat oleh Imanuel
Kant dan juga pandangan Buddha.
Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide
dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang
penampakan atau fenomena, sehingga benda-pada-dirinya-sendiri (das Ding an
sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia
ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu
tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan
menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni
"kehendak".[2]
Biografi
Arthur Schopenhauer lahir di Danzig (sekarang Gdańsk). Dia adalah putra
dari Heinrich Floris Schopenhauer
dan Johanna Schopenhauer. Kedua orang tuannya adalah keturunan orang kaya Jerman dan
keluarga bangsawan. Keluarga Schopenhauer pindah ke Humburg ketika Kerajaan Prussia dikuasai Polish-Lithuanian Commonwealth kota Danzig tahun 1793. Tahun 1805, ayah Schopenhauer
bunuh diri. Setelah itu, ibu Schopenhauer, Johanna pindah ke Weimar, yang
kemudian menjadi pusat literatur Jerman. Kepergiannya ke sana untuk melanjutkan
karirnya sebagai penulis.[5] Setahun kemudian, Schopenhauer meninggalkan bisnis
keluarganya yang ada di Humburg. Dia pergi ke Weimar dan tinggal dengan ibunya.
Schopenhauer pun kuliah dan menjadi mahasiswa di Universitas
Göttingen pada tahun 1809.Pada masa perkuliahannya, dia belajar
tentang metafisika dan psikologi di bawah bimbingan Gottlob Ernst Schulze, penulis buku Aenesidemus, yang mengajurkannya agar berkonsentrasi pada Plato dan Immanuel
Kant. Pada tahun 1811 sampai tahun 1812, dia mengikuti kuliah dari Johann
Gottlieb Fichte,
seorang filsuf post-Kant terkemuka dan dari seorang teolog Friedrich
Schleiermacher.
Selama di Berlin
Pada tahun 1814, Schopenhauer memulai pekerjaannya
sebagai penulis dengan judul bukunya The World as Will and Representation
(Die Welt als Wille und Vorstellung), Dunia sebagai Kehendak dan
Gagasan. Dia menyelesaikannya pada tahun 1818 dan menerbitkannya setahun
kemudian. Pada tahun 1820 Schopenhauer menjadi dosen di Universitas
Berlin. Dia menjadwalkan untuk memberikan kuliah yang sama dengan
pemikiran filsuf terkenal G. W. F. Hegel. Schopenhauer menyebutnya
sebagai clumsy charlata. Namun, hanya lima orang yang berminat mengikuti
kuliahnya dan dia pun di keluarkan dari akademi tersebut.Ketika berada di
Berlin, Schopenhauer pernah menjadi tersangka atas tuduhan dari seorang wanita
bernama Caroline Marquet. Wanita tersebut menuduh
Schopenhauer telah mendorongnya. Di dalam pengadilan Schopenhauer bersaksi
bahwa wanita itu telah mengganggunya dengan suaranya yang keras di depan pintu
Schopenhauer. Caroline Marquet pun menuduh Schopenhauer telah memukulnya
setelah wanita itu menolak untuk pergi dari pintunya. Marquet pun menang di
dalam pengadilan tersebut. Schopenhauer pun dituntut membayar wanita itu selama
dua puluh tahun ke depan. Ketika perempuan itu meninggal dunia, Schopenhauer
menulis sertifikat kematiannya dengan Obit anus, abit onus
("The old woman dies, the burden flies").Hal inilah mungkin yang membuat
dia sangat membenci wanita.
Pada tahun 1812, dia jatuh cinta kepada seorang gadis
berusia Sembilan belas tahun. Gadis itu seorang penyanyi opera dan bernama Caroline Richter. Mereka pun sempat
berhubungan dengannya selama beberapa tahun. Namun, dia membatalkan rencana
pernikahannya. Setelah kematian ayahnya, Schopenhauer meneruskan bisnis ayahnya
sebagai pedagang. Usaha itu dijalankannya selama dua tahun. Sedangkan ibunya
pergi ke Weimar. Schopenhauer pun belajar di Gota Gym. Setelah itu, dia meninggalkannya karena muak dengan
cercaan gurunya Dia pun pergi ke tempat menemui ibunya. Ibunya pda waktu itu
telah membuka sebuah salon kecil. Namun, dia tidak cocok dengan pekerjaan
ibunya itu dan dia pun muak dengan ibunya yang dianggap melupakan kenangan
bersama ayahnya. Schopenhauer pun kemudian berkuliah di sebuah universitas. Di
sana dia menulis buku pertamanya, On the Fourfold Root of the Principle of
Sufficient Reason.[3]
Pindah ke Frankfrut
Schopenhauer ketika masih muda
Pada tahun 1813, wabah kolera menyerang Berlin dan Schopenhauer tinggal di kota
itu. Schopenhauer pun menetap di Frankfrut tahun 1833.Pada saat itu, dia telah berusia dua
puluh tujuh tahun. dia tinggal sendirian di Frankfrut, kecuali dengan binatang
kesangannya Atman dan Butz Karyanya berupa pemikiran yang paling menonjol di
sepanjang hidupnya adalah Senilia. Judul ini diterbitkan sebagai
penghargaan kepadanya. Schopenhauer mempunyai ebuah undang-undang yang kuat.
Pemikiran Schopenhauer banyak dipengaruhi oleh pandangan Buddha dan filsuf Imanuel Kant. Kekagumannya
kepada keduanya itu ama besar. Hal ini terlihat dari ruang kerjanya dipasang
dengan kedua patung tokoh tersebut. Pada tahun 1833, Dia hidup sebagai bujang
kaya berkat warisan orangtuanya. Schopenhauer hidup dengan ketakutan kerena dia
merasa terancam. Oleh sebab itu, dia sering tidur dengan pistol di sampingnya.
Ia banyak menerbitkan tulisan, namun tidak laku dijual. Dia sendirilah ang
membeli buku karya tulisannya untuk disimpan. Beberapa tahun menjelang akhir
hidupnya, barulah ia terkenal. Buku yang disimpannya itupun diedarkannya.
Schopenhauer hidup sendiri. rencana pernikahannya selalu berantakan. Dia
menganggap hidup dengan banyak orang memuakkan dan membuang waktu baginya. Ia
menhina dan mengejek Kaum wanita sebagai “para karikatur”
Akhir Hidupnya
Pada tahun 1860, keadaannya mulai
memburuk. Dia pun meninggal pada 21 September 1860 karena gagal jantung ketika
duduk di bangku sekitar rumahnya. Dia meninggal pada usia yang ketujuh puluh
dua tahun.
Pemikiran
Filosofis
Filsafat Keinginan
Schopenhauer memberikan fokus kepada investigasinya
terhadap motivasi seseorang.Sebelumnya, filsuf terkemuka Hegel telah
mempopulerkan konsep Zeitgeist, ide bahwa masyarakat terdiri atas
kesadaran akan kolektifitas yang digerakkan di dalam sebuah arah yang jelas.
Schopenhauer memfokuskan diri untuk membaca tulisan-tulisan dua filsuf
terkemuka pada masa kuliahnya, yaitu Hegel dan Kant. Schopenhauer sendiri mengkritik
optimisme logika yang dijelaskan oleh kedua filsuf terkemuka tersebut dan
kepercayaan mereka bahwa manusia hanya didorong oleh keinginan dasar sendiri,
atau Wille zum Leben (keinginan untuk hidup) yang diarahkan kepada
seluruh manusia. Schopenhauer sendiri berpendapat bahwa keinginan manusia
adalah sia-sia, tidak logika, tanpa pengarahan dan dengan keberadaan, juga
dengan seluruh tindakan manusia di dunia. Schopenhauer berpendapat bahwa
keinginan adalah sebuah keberadaan metafisikal yang mengontrol tindak hanya
tindakan-tindakan individual, agent, tetapi khususnya seluruh fenomena yang
bisa diamati Keinginan yang dimaksud oleh Schopenhauer ini sama dengan yang
disebut dengan Kant dengan istilah sesuatu yang ada di dalamnya sendiri
Pandangan
filosofis Schopenhauer melihat bahwa hidup adalah penderitaan. Schopenhauer
menolak kehendak. Apalagi dengan kehendak untuk membantu orang menderita.
Ajaran Schopenhauer menolak kehendak untuk hidup dan segala manifestasinya,
namun ia sediri takut dengan kematian IAM STAY AT HERE
Keputusan dan Hukuman
Schopenhauer menjelaskan seseorang yang
hendak mengambil keputusan. Menurut
dia, ketika kita mengambil keputusan, kita akan diperhadapkan dengan berbagai
macam akibat. Oleh sebab itu,
keputusan yang diambil memiliki alasan atau dasar. Keputusan-keputusan ini
menjadi tidak bebas lagi bagi si pemilihnya. Pemilih itu harus diperhadapkan
kepada beberapa akibat dalam sebuah keputusan. Segala tindakan yang dilakukan
seseorang merupakan kebutuhan dan tanggung jawabnya. Segala kebutuhan dan
tanggung jawab itu pun sudah dibawa sejak lahir dan bersifat kekal Schopenhauer
juga menegaskan jika tidak ada keinginan bebas,
haruskah kejahatan dihukum? [4]
Catatan
Filsafat Schopenhauer ini termasuk ke
dalam Idealisme Jerman. Pendapat ini dibuktikan melalui
perbandingan antara filosofis Schopenhauer dengan pandangan Idealisme Jerman. Keduanya mengajarkan bahwa realitas
bersifat subjektif, artinya keseluruhan kenyataan merupakan konstruksi
kesadaran Subjek. Dunia ini juga dipandang sebagai ide. Pandangan Schopenhauer
ini pun dijadikan wakil dari Idealisme Jerman.
Sekalipun memang ada hal-hal yang bersifat lebih khusus dan fundamental yang membedakan
pemikiran Schopenhauer dengan Idealisme Jerman.Bagi Schopenhauer, dasar dunia ini
transcendental dan bersifat irasional, yaitu kehendak yang buta Kehendak ini buta, sebab,
sebab desakannya untuk terus-menerus dipuaskan tidak bisa dikendalikan dan
tidak akan pernah terpenuhi. Namun, justru keinginan yang tak sampai berarti
penderitaan. Selanjutnya, menurut dia bahwa kehendak transendental itu
mewujudkan diri dalam miliaran eksistensi kehidupan, maka
hidup itu sendiri merupakan penderitaanJalan keluar yang diusulkan Schopenhauer
ini pun cukup logis. Kalau hidup ini adalah penderitaaan, maka pembebasan dari
penderitaan tersebut tentunya akan tercapai melalui penolakan kehendak untuk
hidup. Konkretnya adalah
lewat kematian raga dan bela rasa. Cara pemikiran
Schopenhauer ini menarik. Namun, tetap saja memiliki
kesalahan. Masalah dalam
filsafatnya berkaitan dengan pandangannya atas pengetahuan tentang prinsip
individuasi. Menurut
Schopenhauer, berkat pengetahuan inilah manusia sadar bahwa dirinya adalah sama
dengan semua makhluk hidup lain (dasar dari sikap bela rasa) sehingga dia tidak
perlu memutlakkan diri dan keinginannya (dasar sikap mati raga atau
penyangkalan diri). Tanpa pengetahuan ini, manusia tidak akan mengalami pencerahan dan tetap berada
dalam kegelapan. Anggapan Schopenhauer ini menekankan dua hal, yaitu bahwa
kesadaran manusia terbukti lebih kuat dibandingkan nafsu dan keinginannya, dan bahwa karena itu ia juga mampu memperhatikan
keadaan kepentingan orang lain, di dalam hal ini berarti bahwa manusia bukanlah
makhluk egois sebagai mana yang dipikirkan oleh Schopenhauer. Namun, jika
kesadaraan bisa menguatkan manusia menyangkal diri dan berbela rasa, bukankah
demikian kehendak untuk hidup itu sendiri bukan merupakan dasar dari segalanya?
Pengaruh
Kendatipun demikian, pengaruh
Scopenhauer dalam perkembangan pemikiran selanjutnya cukup besar. Ia membuka
jalan bagi orang suatu psikologi tentang alam bawah sadar ala FreudPemikiran
Schopenhauer tentang kehendak untuk hidup di kemudian hari mempengaruhi
filsafat Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa (Der Wille
zur Macht)'. Setengah abad kemudian, ajaran Schopenhauer ini memberikan
inspirasi pada filsafat hidup
(Vitalisme),
misalnya pada pemikiran Henry Bergson
(1859-1941). Selain itu, ia menghidupkan perhatian dan minat orang Barat
pada studi kesustraan dan agama-agama Timur, terkhusus Buddhisme[5]
Daftar Pustaka
1. Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
2.
Mudji Sutrisno dan F. Budi Hardiman. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. 2005.
Jakarta. Penerbit: BPK Gunung Mulia.
3.http://
wikipedia.filsafat.com
Mudji sutioso,para
filusuf.hlm 265-267
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking