Maandag 17 Junie 2013

POSITIVISME AUGUSTE COMTE fisafat umum )



c


POSITIVISME

A.Riwayat Hidup Auguste Comte
Riwayat hidup setiap orang merupakan salah satu media yang dalam memahami alur berpikir dan berbagai gagasan yang diciptakannya, tidak terjecuali dengan riwatyat hidup seorang ilmuwan dan filosop setingkat Auguste Comte. Oleh karena itu, disini untuk terlebih dahulu biografi Auguste Comte, dengan tuuan mengambil serpihan-serpihan latar belakang dirinya sehingga mewujudkan pandangan-pandangan melalui positivisme.
Auguste comte dilahirkan di Montpellier, Perancis, tahun 1798. Keluarganya beragama khaatolik yang berdarah  bangsawan. Meskipun demekian, Aauguste Comte tidak terlalu peduli dengan kebangsawannya. Dia mendapat pendidikan di Ecole Polytechnique di paris  dan lama hidup di sana. Ketika terjadi pergolakan-pergolakan sosial, perang intelektual, dan politik, Auguste Comte merasakan dan banyak mengalami peperangan politis saat itu. Auguste adalah orang yang keras kepala dan suka memberontak dalam mendukung Napoleon dipecat.
Auguste Comte melaalui karir profesionalnya dengan memberi les dalam bidang matematika. Meskipun ia sudah memperoleh pendidikan dalam matematika, perhatiannya yang sebenarnya adalah padamasalah-masalah kemanusian dan sosial. Minatnya mulai berkembang dibawah pengaruh Saint simon, yang mempekerjakan Auguste comte sebagai sekretarisnya ddan dengannya, Auguste comte menjalin kerja sama erat dalam mengembangkan  karya aawalnya sendiri. Kepribadian orang ini saling melengkapi Saint simon  seorang yang tekun, aktif, bersemangat, dan tidak disiplin, sedangan Auguste  comte seorang yang metodis, disiplin, dan repleksif. Akan tetapi setelah  tujuh tahun, pasangan ini pecah karena perdebatan  mengenai kepengarangan karya bersama, dan Auguste Comte pun menolak pembimbingannya ini. (Paul Jhonson MZ. Lawang, 1986 : 76).
Dlam tinjauan singkat biografis mengenai Comte, Coser menekankan  status Comte yang bersifat marginal dikalangan intelektual perancis, Karya Comte dibawah asuhan Scimon kelihatan sangat meyakinkan; Dia memiliki kecermelangan  intelektual dan ketekutan untuk membbuat dirinya sebagai tokoh yang terpandang diantara  tokoh intelektual perancis. Namun sesudah hubungan dengan Simon retak, dia tetap sebagai orang luar akademi. Pada suatu waktu, segera seusai awal serangkaiannya dalam suatu kursus privat, dia menderita ganguan mental yang serius dan dimasukan kerumah sakit karena penyakit “  kerajingan” (mania).. tak  lam  setelah diipulangkan dari rumah sakit ( tanpa sembuh), dia gagal merengut nyawanya sendiri. Dengan membuang diri ke sungai seine dan sesudahnyaa terus berada dalam suatu keadaan hati yang remuk, redam. (Paul Jhonson, Robert MZ Lawang, 1986 : 76).
Kondisi ekonomi comte  juga pas-pasan saja, dan hampir terus-menerugs hidup miskin. Dia tidak perfnah mampu menjamin posisi profesional   yang dibayar dengan semestinya   dalam sisitim pendidikan tinggi perancis. Banyak karilnya berupa memberi les privat, menjyajikan ide-ide teoritisnya, menjadi penguji akademi kecil.  Di akhir hayatnya, dia hidup darim pemberian orang-orang yang mengaguminya dan pengikut-pengikut agama Humanitasnya.
Pergaulan comte dengan gadis-gadis juga mendatangkan malapetaka, tetavi relevan memaham  revolusi dalam pemikiran comte, khususnya perubahan dalamtekanan tahap-tahap akhir kehidupannya dari positivisme ke cinta. Semantara comte sedang mengembangkan pilsrafat positifnya yang komprehensif, dia menikah dengan seoarang bekas pelacur berfnam Carroline Massin, seorang wanita yang lama menderita, serta menaggung beban emosional dan ekonomi dengan comte.
Tahun 1844, dua tahun setelah menyelamatkan enam jilid karya besarnya yang berjudul course of positive philsophy, comte bertemu dengan clothilde  de Vauk, seojrang Ibu   yang merubah kehudupan comte. Wsanita tersebut sedang ditinggalkan  suaminya ketika bertemu dengan Comte pertama kalinya; comte  langsung mengetahui bahwa perempuan itu bukan ekedar perempaun. Syangnya, clothilde de Vauk tgidak terlalu meluap-luap sepertghi comte. Wsalaupun saling berkirim surat cinta berapa kali, Clothilde mengangap hubungan itu hanyalah persaudaraan saja. Akhirya, dalam suratnya, Clothilde menerima menjalin hubungan intim suami istri. Wsanita itu terdesak oleh keprihatinan akan kesehatan mental Comte ( yang karena iitulah, sesekali comte secara radikal mengurangi kegiatan membacanya). Hubungan intim suami istri suami istri tidak jadi terlaksana; akan tetapin perasaan mesra sering diteruskan lewat surat-suratnya. Namun, romantika ini tidak berlangsung lama. Clothilde de Vauk mengidap penyakit TBC dan hanya berapa bulan sesudah bertemu dengan Comte, dia meninggal. Kehidupannya Comte lalun tergoncang; dia bersumpah untuk membuktikan hidupnya untuk mengenang “bidadari”  nya iyu. (Paul Jhonson,Robert MZ. Lawang,1986 : 77).
Sifat tulisan Comte umumnya berfubah secara mencolok setelah menjalin hubunga dengan Clothilde de Vaux. Dia memulai karya bagian kedua, yakni sytem of Positive Politics, yang merupakan suatu pertnyataan menyeluruh mengenai strategi pelaksanaan praktis pemikirannya mengenai filsafat positif yang sudah dikemukakannya terlebih dahulu dalam bukuinya course of  Positive Philosophy. Namun sebaliknya,   sytem of Positive Politic menjadi suatu bentuk perayaan cinta, tetapi dengan keinginan besar yang sama yakni membangun sistem menyeluruh, seperti yangn tercermin dcalam karyanya yang lebiih dahulu.
B. Pengertian Positivisme
Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798 – 1857) yang tertuang dalam karya utama auguste Comte adalah Cours de Philosophic Positive,  yaitu kursus tentang filsapat Positif (1830 – 1842) yang ditebitkan  dalam enam jilid. Selain itu,karyanya yang pantas didsebutkan disini ialah Discour Lesprit positive (1884) yang artinya pembicaraan tentang jiwa positif. Dalam karya inilah, Comte menguraikan secara singkat pendapat-pendapat positivis, hukum tiga stadia, klasifikasi ilmu pengetahuandan bagan mengenai tatanan dan kemajuan (Juhaya S.Pradja,2000 : 89)
Positivisme  berhasal dari kata “Positif”,kata Positif” di sini sama atinya  dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut Positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Dengan demikian, Ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh  istimewa  dalm biidang pengetahuan. Kemudian pilsafat menjadi contoh itu. Oleh karena itu  Positivisme menolak  cabang  Pilsafat metafisika menanyakan “Hakikat” benda-benda atau” penyebab yang sebenarnya”.
C. Perspektif  Positivistik Tentang Masyarakat
            Meskipun Comte memberikan istilah “Positivisme”, gagasan yang terkandung dalam kata bukan berhasal dari dia. Kaum positivis percaya bahwab masyarakat merugpakan bagian dari alam bahwa metode-metode penelitian empiris dapatb dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sudah tersebar luas lingkunggan intelektual pad masa Comte. Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruan organik yang  kenyataannya lebih dar.i sekedar jumlah bagian-bagian yang saling bergantung  tetapi untuk kenyataan ini, metode penelitian empiris hargus digunakan  dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti hannya gejala fisik. Andreski berpendapat, ;pendiriian comte.
Comte melihat perkembangan ilmutentang masyarakat yang bersifat alamiah sebagai puncak  sutu proses kemajuan intelektual yang logis yang telah dilewati oleh ilmu-ilmu lainnya. Kemjuan ini mencakup perkembangan dari bentuk-bentuk pemikiran teologis purba, penjelasan metafisik, dan akhirnya sampai  terbentuknya hukum-hukum ilmiah ilmiah yang positif. Bidang-bidang sosiologi (atau fisik sosial) adalah paling akhir melewati tahap-tahap ini, karena pokok permasalahanny lebih kompleks dari padda yang terdapat ilmu fisika dan biologi.
D. Hukum TigaTahap
            Meskipun persfektif teoristis komte mencakup statistika dan dinamika sosia, (atau ahli sosiologi sekarang ini menyebutnya struktur dan perubahan)  perhatian utamanya dalam bagian pertama dan karirnya adalah menjelaskan dinamika kemajuan sosial.Kepercayaan akan kemajuan manusia yang tidak terelakan ini, sejalan dengan pemikiran evulusionel kemudian hal ini juga mencerminkan engaruh ide-ide pencerahan pada abad ke-18.(paul jhonson,83).
umat manusia dam massa primitif sampai peradapan prancis pada abad ke-19 yang sanagat maju.Hukum ini yang mungkuin paling terkenal dan gagasan-gagasan dan teoretis manusia )berkembang melalui 3 tahap utama tahap-tahap ini ditentukan menurut  cara berpikir yang dominan, yaitu teologis, metafisik dan fositif.
Yang paling penting, bentuk-bentuk pemikiran prafositif, mendorong konsensus seperti itu penting sebagai dasar utama keteraturan sosial.Argumentasi-argumantasi komte untuk menjelaskan hubungan-hubungan secara  terperinci menekankan bahwa dalam tahap teologis, dukungan dari  otoritas religus yang mengesahkan perlu untuk menenamkan disiplin  sosial untuk kegiatan yang paling militer. Kegiatan militer diinginkan hanya karena  hal itu merupakan cara yang paling menarik dan paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan material.Juga mentallitas teologis dan militer seperti yang dianalisis sangat bersifat mutlak .Meskipun hukum kemajuan mmenjamin evolusi jangka panjang dari satu tahap ketahap berikutnya, berbagai faktor sekunder  dapat mempercepat  atau  menghambat perkembangan evolusi ini. Comte sangat tajam dalm mencela  mereka yang bermaksud mengubah masyarakat tanpa secukupnya sadar  mengenai kemajuan atunakan sumbangan-sumbangan yang bernilai secara sosial  dan tahap-tahap  sebelumnya.

E. Prinsip – Prinsip keteraturan sosial
            Sejalan  dengan prespektif organiknya, comte sangat menerima saling ketergantungan yang harmonis antara “bagian-bagian) masyarakat, dan sumbangan terhadap bertahannya stabilitas sosial. Meskipun keteraturan sosial dapat terancam oleh anarki sosial, moral, dan ontelektual, selalu akan diperkuat kembali. Sesungguhnya periode sejarah sudah diandai oleh stabilitas yyang berarti, dan sebagian tugas comte, yang diberikan sendiri adalah menemukan sumber-sumber stabilitas.
            Akhirnya comten lebih tertarik untuk menjelaskan perkembangan evolusi dari pada menjelaskan stbilitas kketeraturan sosial, khususnya pada bagian pertama kali akhirnya. Akan tetapi selalu sumbangan  sosial yang penting dari tahap perkembangan pra positif dalah bahwa mereka mementingkan konsesus intelektual. Pentingnya agama dalam mendukung solidaritas sosial dapat diliihat dalam kenyataan bahwa otoritas politik dan agama biasanya berhubungan erat,bahkan setelah pemisahan institusional (atau diferensiasi) antara kekuasaan dunia dan spritual, dukungan spiritual umumnya diminta untuk memperkuat dan melegimitasi kekuasaan duniawi singkatnya agama sudah menjadi institusi pokok yang yang mementingkan altruisme dari pada egoisme.
            Keteraturan sosial juga bergantung pad pembagian pekerjaan dan kerja sama ekonomi. Individu-individu menjalankan  kegiatan ekonomi untuk memnuhi kegiataan individunya. Dipihakmlain, ada bahayam bahwa individulisme yang meningkat karen pembagian kerja yang tinggi, akan sangat ditekankan dengan merugikan solidaritas soosial. Dalam melihat penbagian kerja itu sendiri untuk menghasilkan tingkatan integrasi yang cukup tinggi, pemerintah harus mengatur berbagai “bagian” dalam masyarakat itu dan untuk menjamin suatu tingkatan kesatuan yang cukup tinggi dalm mengatasi konsekuensi disintigrasi dari pembagian kerja.

F. Agama Humanitas
            Wawasan Comte terhadap konsekuensi-konsekuensi agama yang menguntungkan dan   ramalannya mengenai tahap positif  postreligius  dalam evolusi manusia menghadapkan dia pada masalah rumit. Tidak seperti ppemikir-pemikir radikal dalam revolusioner semasa dia, Comte menekanlkan perhatiannya pada keteratuaran sosial. Akan tetapi kalau dilihat dari perspektif ilmiah (atu positif) agama dudasarkan kekeliruan intelektual asasi yang mula-mula sudah berkembang pada saat-saat awal perkembangan intelektual manusia.
            Banyak para ahli menyetujui bahewa buku Comte yang berjudul sytem of Positive Politics itu secara intelektual tidak sebaik bukunya dahulu, Course pf Positive Philos. Beberapa kritik menemukan bahwa comte  sudah gia ketika memulai karyanya ini. Ingat bahwa hubungan comte  yang sangat fatal dengan Clothide de Vaux tejadi justru sebelum comte mulai dengan positive politics  nya. Lewis Coser sebagaimana diuraikan Jhonson, melihat bahwa suatu perubahann besar  sudah terjadi dalm emosi Comte. Yang sangat merugikan mutu karya intelektualnya. Sesudah menggambarkan pertemuannya  pertama denagan Clothilde de Vaux, Coser ,menulis, “ tiba-tiba waajah tenang dan metodis  yang diperlihatkan comte kepada  dunia luar menjadi lenyap.
            Dalam mengambarkan Sytem of positife pollitic, coser menulis, pada halaman-ha;amannya, comte sekarang mengungkapan emosi lebiih dahulu   dari plada intelek, perasaan melebihi akal budi. Tentu saja, perubahan penekanan dan nadanya   tidak dapat disangkal perubahan itu sanga merugikan comte sehubungan dengan rasa hormat para kaum cendekiawan serta pengikut- pengikutnya. John Stuart Mill, misalnya sudah sangat terkesan dengan pandangan yang sangat luas  dalam positife philosopy, tetapi dia berpendapat bahwa positive politic bersifat i ilmiah dan otoriter. Comte berusxaha membelal dirinya  dengan mempertahankan bahwa karyannya yang terakhir ini tidak  bertentangan dengan yanng terdahulu, kecualia sebagai perfkembangan gagasan- gagasan yang secara tersemunyi terdapat dalam karya yang terdahulu.
            Becker, Menurut Jhoson, teruus memperlihatkan bahwa posisi comte secara keseluruan, termasuk tekanan yang hharus ada pada perasaan  dan moralitas.  Sudah tanpak  pada awal karir comte, untuk maksud Becker bukan   untuk membela  agam humanitas comte sangat terperinci itu. Gagasan comte mengenai satu masyarakat positivis dibawah bimbingan moral agam Hummanitas makin lama makin terperinci. Misalnya menyusun satu kalender baru dnnngan haari- hari tertentu  untuk menghorfmati ilmuan-ilmuan besar dan lain-llaain,sudah berkerja demi kemanusian dan kemajuan manusia. Hal- hal yang terfperinci inu memperlihatkan kepribadian Comte suka memaknsa    . Akan tetapi kepribadian comte  yang suka memaksa dan otoriter. Akan tetapi ,ingatlah bahwa dia melihat suasan, dia benci dan  sosial   dacn intelektual pada masa hidupnya sebagai tarancam, anarki; seperti banyak kaum intektual lainnya dengan perspektf organik  dan takut. Banayak ahli ilmu sosialsekarang terlibat mengatakan bahwa alam mendorong pelaksanaan yang mereka tarik dari analisis ilmiahnya.
            Menurut Soerjono soekanto (1987, :  25 -27) mengatakan bahwa auguste comte yang pertama kali memakai istilah “sosiologi”  dalah orang yang pertama membedakan antara ruang lingkup dengan isi sosiologi  dari ruang lingkup dengan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi –isi ilmu pengetahuannya. Menurut Comte, ada tiga tahap perkembangan inyelektual, yang masing-masing tahap merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Tahap pertama yaitu tahap teologis atau fiktif, yaitu suatu tahap dimana manusia menapsirkan  gejala-gejala disekelilingnya secara teologis yaitu dengan kekuataan-kekuataan yang dikendalikan oleh roh dewa-dewa atau tuhan yang maha kuasa.

G. Tiga Zaman Perkembangan Pemikiran Manusia
            Titik tolak ajaran Comte yang terkenal adalah tanggapan atas perkembangan pengetahuan manusia, baik perseorangan maupun umat manusia secara keseluruan, melalui tiga zaman atau tiga stadia. Menurutnya , perkembangan menurut tiga zaman merupakan hukum yang tetap. Ketiga zaman itu ialah zaman teologis, zaman metafisis, dan zaman ilmiah tau positif.
1.Zaman Teologis
            Pada zaman teologis, manusia percaya bahwa di bbelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala tersebut. Zaman teologis dapat dibagi menjadi tiga periode yaitu sebagai berikut:

a.        Animisme. Tahap animisme merupakan tahapan paling primitif karena benda-benda di anggap mempunyai jiwa.
b.      Politeisme. Tahap politeisme merupakan perkembangan dari tahap pertama. Pada tahap ini manusia percaya pada dewa yang masing-masing menguasai suatu lapangan tertentu; Dewa laut,dewa gunung, dewa halilintar, dan sebagainya.

2.Zaman Metafisis
            Pada zama ini kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep dan prinsip yang abstrak, seperti, kodrati dan penyedap. Metaisika pada zaman ini dijunjung  tinggi.

3.Zaman Positif
      Zaman ini dianggap zaman tertinggi dari kehidupan manusia. Alasannya iaalh  pada zaman inin tidak lagi ada usaha manusia untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakanng fakta-fakta. Hukum tiga zaman tidak saja berlaku pada manusia sebagai anak manusia berada zaman teologis, pada masa remaja, ia maasuk zaman metafisis dan pada dewasa, ia memasuki zaman positif.

4. Altruisme
            Altruisme merupakam ajaran comte sebagai kelanjutan dari ajarannya tentang tiga zaman, Altruisme diartikan sebagai “menyerahkan diri kepada keseluruan masyarakat”, bahkan , bukan”, salah satu masyarakat melainkan i’humaniye –“suku bangsa manusia”- pada umumnya menjadi “altruisme bukan sekedar lawan “egoisme”. (Juhaya  S. Pradja.200 : 91”.
            Keteraturan masyarakat yang dicari dalam positivisme hanya dapat dicapai kalau semua orang dapat menerima altruisme s  Bila paham altruisme debagai prinsip dalam tindakan mereka. Alterisme Comte merupakan paradoksal dari hukum tiga zamannya karena ia meninggalkan agama. Bila paham altruisme ini dibandingkan dengan filsapat islam, akan tampak dalam pemikiran yang dikembangkan oleh para filosof hukum islam yang membagi dua macam hak, pertama mereka disebut haqqullah, yakni hak allah, kedua mereka namai dengan hak adammy, yaiti hak manusia.
            Ujung dari pencarian kebenaran yang dilakukan oleh Auguste Comte adalah falsafahnya tentang hidup manusia yang membutuhkan hubungan denagan zat yang semourna, yand diwujudkan dalam dari sosiologi.

H. Susunan Ilmu Pengetahuan

            Ilmum pengethuan tidak semuanya mencapai kematangan yang sama pada saat bersamaan. Oleh karena itu , memungkinkan untuk melukiskan perkembangan ilmu pengetahuan berdasarkan rumitnya bahan yang dipelajari di dalamnya. Urutan ilmu pengetahuan tersusun sedemikaian rupa sehingga yang satu selalu mengandalkan ilmu pengetahuan yang lain yang lain mendahuluinya. Dengan demikian, Comte membedakan  enam ilmu pengethuan,pokok, yaitu: ilmu pasti, astranomi, fisika, kimia,  biologi, dan puncaknya pada sosiologi. Semua ilmu pengetahuan, Menurut Comte, dapat dijabarkan kepada salah satu dari enam ilmu tersebut.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking