Maandag 17 Junie 2013

Hellenisme ( tokoh filsafat )

Hellenisme

hellenisme diambil dari bahasa Yunani kuno Hellenizein yang berarti “berbicara atau berkelakuan seprti orang Yunani”. Hellenisme klasik: yaitu kebudayaan Yunani yang berkembang pada abad ke-6 dan ke-5 SM. Hellenisme secara umum: istilah yang menunjukkan kebudayaan yang merupakan gabungan antara budaya Yunani dan budaya Asia kecil, Syiria, Metopotamia, dan mesir yang lebih tua. Lama periode ini kurang lebih 300 tahun, yaitu mulai 323 SM (masa Alexander Agung atau meninggalnya Aristoteles) hingga 20 SM. Hellenisme ditandai dengan fakta bahwa perbatasan antara berbagai negara dan kebudayaan menjadi hilang. Kebudayaan yang berbeda yang ada di jaman ini melebur menjadi satu yang menumpang gagasan-gagasan agama, politik dan ilmu pengetahuan.[1]
Hellenisme di bagi menjadi dua fase, yaitu fase Hellenisme dan fase Hellenisme Romawi. Fase Hellenisme adalah fase yang ketika pemikiran filsafat hanya dimiliki oleh orang-orang Yunani. Adapun fase Hellenisme Romawi ialah fase yang sudah datang sesudah fase hellenisme, dan meliputi semua pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan romawi, yang ikut serta membicarakan peninggalan pikiran Yunani, antara lain pemikiran Romawi di barat dan di timur yang ada di mesir dan di siria. Fase ini dimulai dari akhir abad ke-4 sebelum masehi sampai pertengahan abad ke-6, Masehi di Bizantium dan roma, atau sampai masa penerjemahan di dunia arab.
Sebelum filsafat yunani muncul, kebudayaa yunani telah mencitrakan khas berpikir yang filosofi, sebagaimana mitos-mitos yang berkembang di yunani adalah bagian yang menentukan kelahiran filsafat.[2]
Dalam filsafat yunani, unsur-unsur agama bersahaja yang berhalais sangat kental, antara lain kepercayaan tentang adanya bnyak zat yang membekasi alam dan yang menjadi sumber segala peristiwa alamiah, meskipundalam bentuk yang berada dengan ajaran agama Yunani sendiri, karena zat yang berbilang dalam agama itu dinamakan “dewa-dewa”, sedangkan dalam filsafat disebut “akal benda-benda langit”,sebagaimana yang paham tentang “akal bulan” dengan “akal manusia”.
Ciri pemikiran filsafat yunani ialah adanya cara berpikir yang tidak relawan dengan realitas yang ada atau keberadaan yang benar-benar nyata menurut pemahaman filosofis bukan eksistensi yang sesungguhnya, karena setiap realitas menyembunyikan hakikatnya yang paling hakiki, sebagaimana adanya api yang kemudian padam.
Meskipun Plato dan Aristoteles telah berhasil memadukan pikiran-pikiran filsafat yang sebelumnya, keduanya tidak dapat melarutkan sama sekali, karena pikiran-pikiran filsafat tersebut adalah pemikiran bermacam-macam aliran yang boleh jadi berbeda-beda pandangannya terhadap hidup dan alam ini. Aliran-aliran ini adalah:
1.       Natural phylosophy dengan Democritas sebagai tokohnya dan filosof-filosof Lonia, yang menghargai alam dan wujud benda setinggi-tingginya,
2.       Aliran Ketuhanan” yang mengakui zat-zat yang metafisik, diwakili oleh “aliran Elea” dan Socrates, yang mengatakan bahwa sumber alam indrawi adalah sesuatu yang berada di luarnya.
3.       “Aliran Mistik” dengan Pythagoras sebagai tokohnya, yang bermaksud memperkecil atau mengingkari nilai alam indrawi.
4.       “Aliran Kemanusiaan” yang menghargai manusia setinggi-tinggi dan mengakui kesanggupannya untuk mencapai pengetahuan, serta menganggap manusia sebagai ukuran kebenaran.
Aliran-aliran filsafat tersebut telah mempengaruhi hasil pemikira filosof-filosof yang mendatang, bagaimana pun kuat dan besarnya filosof-filosof.[3]
Pada fase Hellenisme-Romawi, meskipun keseluruhan masa hellenisme-romawi mempunyai corak yang sama, apabila mengingat perkembangannya, maka dapat dibagi menjadi tiga masa, dan tiap-tiap masa mempunyai corak tersendiri.
Masa pertama, dimulai dari empat abad sebelum masehi. Aliran-aliran yang terdapat di dalamnya ialah:
1.     Aliran Stoa (Ar-Riwaqiyyah) dengan Zeno sebagai pendirinya. Ia mengajarkan agar manusia jangan sampai bisa digerakkan oleh kegembiraan atau kesedihan (jadi tahan diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada suatu keharusan yang tidak bisa ditolak dan yang menguasai segala sesuatu.
2.     Alir epicure, dengan epicure sebagai pendirinya. Aliran ini mengajarkan bahwa kebahagian manusia merupakan tujuan utama.
3.     Aliran skiptis (ragu-ragu)  yang meliputi “ aliran phyro” dan “aliran akademi baru”. Aliran skeptis mengajarkan bahwa untuk sampai pada kebenarannya, manusia haruspercaya dulu bahwa segala sesuatu itu tidak benar,  kecuali sesudah dapat dibuktikan kebenarannya. Ajaran lain ialah bahwa pengetahuan manusia adalah tidak akan sampai pada kebenaran, atau dengan perkataan lain mengingkari kebenaran mutlak (objektif)
4.     Aliran eliktika-pertama (aliran seleksi)

          Masa kedua, dimulai  dari pertengahan abad sebelum masehi sampai pertengahan abad ketiga masehi. Aliran ini terdapat pada masa ini ialah:(1) aliran peripateki terakhir; (2)aliran stoa baru; (3) aliran epicure baru; (4) aliran pythagoras; dan (5) aliran filsafat yahudi dan plato.[4]
          Filsafat hellanisme- yahudi ialah sesuatu pemikiran filsafat, yaitu filsafat yahudi dipertemukan dengan kepercayaan yahudi, dengan jalan penggabungan atau mendekatkan salah satunya kepada yang lain, atau membuat susunan baru yang mengandung kedua unsur tersebut.
          Masa  ketiga, dimulai dari abad ketiga. Masehi sampai pertengahan abad keenam masehi di bizantium dan roma, atau  sampai pertengahan abad ketujuh atau kedelapan di iskandariah dan timur dekat (asia kecil). Pada masa ketiga ini, kita mengenal aliran-aliran; (1) neoplatonisme; (2) iskadariyah; (3) filsafat diasia kecil, yang terdapat di antiochia, harran, ar-ruha, dam nissibis. Aliran-aliran ini merupakan kegiatan terakhir menjelang timbulnya “aliran bagdad” yaitu aliran filsafat islam.
          Diantara aliran-aliran filsafat dari masa ketiga, neoplanisme-lah yang terpenting dan yang paling banyak pengaruhnya terhadap filsafat islam.
          Aliran neoplatonisme merupakan rangkaian terakhir atau rangkain sebelum terakhir dari fase hellenisme-romawi, yaitu fase mengulang yang lama dan bukan fase mencipta yang baru. Neoplatonisme ini juga masih berkisar pada filsafat yunani, tasawuf timur yang meramu dari masa filsafat yunani serta menggabungkannya. Oleh karena itu, di dalamnya terdapat  ciri-ciri filsafat yunani yang kadang-kadang bertentangan agama-agama langit, yaitu agama yahudi dan agama masehi, karena dasar filsafat tersebut ialah kepercayaan rakyat yang memepercayai sumber kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, di dalam neoplatonisme terdapat unsur-unsur platoisme, Phthagoras, Aristoteles, Stoa, dan manusia, religiusitas dan keberhalaan.
          Uberweg dalam bukunya Geschihte der Philosophie mengatakan bahwa aliran Neoplatonisme dimulai dari abad pertama masehi dan berakhir pada pertengahan abad keempat masehi, sedang menurut penulis lainnya berakhir pada pertengahan abad ke tujuh masehi adalah masa aliran iskandariyah yang mengantikan aliran neoplatonisme.
          Perbedaan kedua aliran tersebut ialah:
1.       Neoplatonisme berkisar pada segi metafisika pada filsafat yunani, yang boleh jadi dalam beberapa hal berlawanan dengan agama masehi, sedangkan aliaran iskandariyah lebih condong kepada matematika serta alam dan meninggalkan lapangan metafisika, dan keadaan ini bisa menyebabkan tidak adanya perlawanan dengan agama masehi.
2.       Neoplatonisme lebih banyak mendasarkan pikirannya kepada seleksi dan pemaduan, sedangkan aliran iskandariyah lebih banyak mengadakan ulasan-ulasan terhadap pikiran-pikiran filsafat.
          Ulasan-ulasan yang sampai kepada kaum muslimin datang dari aliran iskandariyah dan aliran-aliran hellenisme-Romawi. Ada tiga ulasan, yaitu: (1) ulasan dari  golongan peripatetik dari masa sebelum neoplatonisme, terutama dari iskandar Aphrodisias; (2)[5] ulasan dari aliran neoplatonisme, terutama dari Porphyrius; mungkin ulasan ini bisa menjelaskan adanya usaha dari Al-Farabi dan ibnu sina untuk mempertemukan agama dengan filsafat-filsafat; (3) ulasan dari orang-orang iskandariyah seperti Hermias, Stephanus, dan Joannes Philoponos.




[1] Imron,A.Ag.,M.A,Filsafat Umum (Palembang Noer Fikri Offset,2013) hal., 4
[2] Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi  (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 98
[3] Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi  (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 99-100

[4] Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi  (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 101-102

[5] Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi  (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 102-103

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking