Maandag 17 Junie 2013

FILSAFAT REALISME

FILSAFAT REALISME

1. Definisi Realisme
Dengan memasuki abad ke-20,realisme muncul,khususnya di Inggris dan Amerika Utara. Real berarti yang aktual atau yang ada,kata tersebut menunjuk kepada benda‑benda atau kejadian-kejadian yang sungguhsungguh,artinya yang bukan sekadar khayalan atau apa yang ada dalam pikiran. Real menunjukkan apa yang ada. Reality adalah keadaan atau sifat benda yang real atau yang ada,yakni bertentangan dengan yang tampak. Dalam arti umum, realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi bukan kepada yang diharapkan atau yang diinginkan. Akan tetapi dalam filsafat, kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis.
Dalam arti filsafat yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indera kita adalah real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Bagi kelompok realis, alam itu, dan satu‑satunya hal yang dapat kita lakukan adalah: menjalin hubungan yang baik dengannya. Kelompok realis berusaha untuk melakukan hal ini, bukan untuk menafsirkannya menurut keinginan atau kepercayaan yang belum dicoba kebenarannya. Seorang realis bangsa Inggris, John Macmurray mengatakan:
Kita tidak bisa melpaskan diri dari fakta bahwa terdapat perbedaan antara benda dan ide. Bagi common sense biasa, ide adalah ide tentang sesuatu benda, suatu fikiran dalam akal kita yang menunjuk suatu benda. Dalam hal ini benda dalah realitas dan ide adalah 'bagaimana benda itu nampak pada kita'. Oleh karena itu, maka fikiran kita harus menyesuaikan diri dengan benda-benda , jika mau menjadi benar, yakni jika kita ingin agar ide kita menjadi benar, jika ide kita cocok dengan bendanya, maka ide itu salah dan tidak berfaedah. Benda tidak menyesuaikan dengan ide kita tentang benda tersebut. Kita harus mengganti ide-ide kita dan terus selalu menggantinya sampai kita mendapatkan ide yang benar. Cara berpikir  common sense semacam itu adalah cara yang realis; cara tersebut adalah realis karena ia menjadikan 'benda' adalah bukan 'ide' sebagai ukuran kebenaran, pusat arti. Realisme menjadikan benda itu dari real dan ide itu penampakkan benda yang benar atau yang keliru[1]
. Realisme menegaskan bahwa sikap common sense yang diterima orang secara luas adalah benar, artinya, bahwa bidang aam atau obyek fisik itu ada, tak bersandar kepada kita, dan bahwa pengalaman kita tidak mengubah watak benda yang kita rasakan [2]
2. Jenis-jenis Realisme
Realisme adalah suatu istilah yang meliputi bermacam-macam aliran filsafat yang mempunyai dasar-dasar yang sama. Sedikitnya ada tiga aliran dalam realisme modern. Pertama, kecenderungan kepada materialisme dalam bentuknya yang modern. Sebagai contoh, materialisme mekanik adalah realisme tetapi juga materialisme. Kedua, kecenderungan terhadap idealisme. Dasar eksistensi mungkin dianggap sebagai akal atau jiwa yang merupakan keseluruhan organik. James B. Pratt dalam bukunya yang berjudul Personal Realism mengemukakan bahwa bentuk realisme semacam itu, yakni suatu bentuk yang sulit dibedakan dari beberapa jenis realisme obyektif. Ketiga, terdapat kelompok realis yang menganggap bahwa realitas itu pluralistik dan terdiri atas bermacam-macam jenis; jiwa dan materi hanya merupakan dua dari beberapa jenis lainnya. Apa yang kadang-kadang dinamakan realisme Platonik atau konseptual atau klasik adalah lebih dekat kepada idealisme modern daripada realisme modern.
Jika realisme itu benar, akibatnya mungkin ada suatu gereja universal yang mempunyai dogma yang berwibawa. Semua manusia berdosa karena Adam berdosa, dan doktrin penebusan dan karya Kristus dapat diterapkan kepada seluruh umat manusia. Tetapi jika nominalisme itu yang benar, maka hanya gereja partikular lah yang riil; selain itu, dosa Adam dan penebusan tidak berlaku lagi bagi tiap orang, dan kita bebas untuk mengganti dekrit-dekrit gereja dengan keputusan-keputusan pribadi. Gereja Abad Pertengahan membantu realisme, karena nominalisme condong untuk mengurangi kekuasaan gereja.
Aristoteles adalah lebih realis, dalam arti modern, dari pada gurunya, Plato. Aristoteles merupakan seorang filosuf pertama. Ia menciptakan cabang pengetahuan itu dengan menganalisis problem-problem tertentu yang timbul dalam hubungannya dengan penjelasan ilmiah. Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di Stagira, sebuah kota Thrace. Ayahnya meninggal tatkala ia masih muda. Ia diambil oleh Proxenus, dan orang ini memberikan pendidikan yang istimewa kepadanya. Tatkala Aristoteles berumur 18 tahun, ia dikirim ke Athena dan dimasukkan ke Akademia Plato.[3] Ia mempunyai bakat mengatur cara berpikir serta merumuskan kaidah dan jenis-jenisnya yang kemudian menjadi dasar berpikir dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Ia tak pernah terjeblos dalam rawa-rawa mistik ataupun ekstrem. Ia senantiasa bersiteguh mengutarakan pendapat-pendapat praktis.[4]
Perkembangan penting dalam filsafat dibantu oleh klasifikasi yang diusulkan oleh Aristoteles. Ia tertarik pada fakta yang spesifik dan juga yang umum(universal). Ia biasanya memulai dari gejala particular menuju konklusi universal. Jadi, induksi menuju generalisasi. Agak berbeda dengan Plato, ia sangat tertarik pada pengetahuan kealaman dalam filsafatnya, dan karena itu ia mementingkan observasi. Di dalam dunia filsafat Aristoteles terkenal sebagai bapak logika. Logikanya disebut logika tradisional karena nantinya berkembang dengan apa yang disebut logika modern. Logika Aristoteles itu juga sering disebut logika formal.[5]
Aristoteles juga mempelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir setiap cabang falsafah, dan memberi sumbangsih tak terkira besarnya terhadap ilmu pengetahuan. Yang paling penting dari apa yang pernah dilakukan Aristoteles adalah pendekatan rasional yang senantiasa melandasi karyanya. Tercermin dalam tulisan-tulisan Aristoteles bahwa setiap segi kehidupan manusia atau masyarakat selalu terbuka untuk objek dan pemikiran. Filsafat Aristoteles berkembang ketika ia memimpin Lyceum. Ia berhasil membuat sejumlah karya, termasuk enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting.[6]
Pada Aristoteles kita menyaksikan bahwa pemikiran filsafat lebih maju, dasar-dasar sains diletakkan. Tuhan dicapai dengan akal, tetapi ia percaya pada tuhan. Bila orang-orang sufis banyak menganggap manusia tidak mampu memperoleh kebenaran, namun menurut Aristoteles, manusia dapat mencapai kebenaran. Bagi Aristoteles yang nyata bukan yang bersifat umum (universal ),namun yang bersifat khusus(particular). Hidup bagaimanpun juga berada dan bercampur dengan yang khusus itu (alam nyata,bunga mawar nyata,dst). Dan kita tak pernah menemukan yang umum (alam ide, mawar ide,dst). Jadi, yang ada adalah yang konkret; meja, bunga mawar, kupu-kupu, dan lainnya yang biasa dapat kita amati dengan indera. Diluar benda-banda konkret, atau selain benda-benda konkret itu tak isa disebut sebagai ada. Pengertian-pengertian umum hanya mengungkapkan apa yang dimiliki bersama oleh sekelompok benda. Pengertian umum itu hanya sebutan saja, bukan bendanya sendiri. Yang khusus itu (particular)dikaitkan dengan istilah substansi, yaitu benda yang dapat ada tanpa tergantung pada yang lain. “benda” semcam ini bukan hanya sekedar forma atau sebongkah bahan . Benda semacam ini justru gabungan antara bahan dan forma.
Universal bagi aristoteles tidak pernah bisa mandiri. Yang universal ada dan bisa dikenali ketika bersama didalam hal-hal konkret. Misalnya, kata cinta tak bisa dikenali begitu saja tanpa terkait didalam benda-banda konkret; demikian pula dengan kata “manusia” tak akan dipahami  jika ia tak terkait dengan Jono, Husni,dll. Aristoteles adalah orang yang pertama kali membicarakan substansi, ia menggunakan kata ousia (keadaan ). Ousia dimaksudkan Aristoteles sebagai barang konkret yang ada, yang terdiri dari bahna dan bentuk. Kita dapat bertanya, apakah berjalan, berada dalam keadaan sehat, dn duduk, masing-masingberada pada dirinya sendiri. [7]
Logika Aristoteles juga berkenaan dengan definisi. Definisi adalah pengertian yang bisa kita berikan pada suatu hal. Bagi Aristoteles pengertian tentang sesuatu tersusun dari genus proximum( ciri khas, yang spesifik). Kita tak pernah bisa menyatakan bahwa kucing adalah kucing, kita dapat mengenali kucing karena kita bisa menemukan bahwa ia adalah binatang erkaki empat yang mengeong. Dengan cara ini ditemukanlah bahwa kucing yang kita bicarakan adalah kucing yag konkret berbeda dengan anjing, kuda dan manusia. Aristoteles memberikan satu titik acuan pada saat kita memikirkan perubahan. Yaitu bahwa dari semua yang tampak berubah sebenarnya terdapat satu unsur yang tetap, substansi. Ia menjadi tempat bergantungnya berbagai unsur dari sesuatu. Jiwa disebut sebagai substansi diri manuasia, jika semua unsure dalam diri manusia bergantung  pada jiwa. Isilah ini dihubungkan dengan aksiden, yaitu kualitas suatu benda yang tanpa dirinya benda itu tetap ada.[8]
Aristoteles adalah seorang pengamat yang memperhatikan perincian benda-benda individual. Ia merasa bahwa realitas terdapat dalam benda-benda konkrit atau dalam perkembangan benda-benda itu. Menurut Aristotelas, realitas yang objektif tidak saja tertangkap dengan pengertian, tetapi juga bertepatan dengan dasar-dasar metafisika dan logika yang tertinggi. Dasar itu ada tiga:
·         Semua yang benar harus sesuai dengan adanya sendiri. Tidak mungkin ada kebenaran kalu didalamnya ada pertentangan. Ini terkenal sebagai hokum identika
·         Dari dua pertanyaan tentang sesuatu, jika yang satu membenarkan dan yang lain menyalahkan, hanya satu yang benar. Ini disebut hukum penyangkalan ukum itu tidak saja berlaku bagi (kontradikta). Inilah menurut Aristoteles yang terpenting dari segala prinsip
·         Antara dua pertanyaan yang bertentangan menyiagakan dan meniadakan, tidak mungkn ada pertanyaan yang ketiga. Dasar ini disebut hukum penyingkiran yang ketiga.
Aristoteles berpendapat bahwa ketiga hokum itu tidak saja berlaku bagi jalan pikiran, tetapi juga seluruh alam takluk kepadanya. Ini menunjukkan bahwa dalam dalam hal membanding dan menarik kesimpulan harus mengutamakan yang umum.[9]
 Dunia yang riil adalah dunia yang kita rasakan sekarang, dan bentuk serta materi tidak dapat dipisahkan. Dari abad ke-12, pengaruh Aristoteles condong untuk menggantikan pengaruh Plato. Thomas Aquinas (1224-1274) menyesuaikan metafisika Aristoteles dengan teologi Kristen dan berhasil memberikan gambaran yang sempurna tentang filsafat skolastik Abad Pertengahan. Sintesanya yang besar itu dibentuk dalam tradisi realis.
Di Amerika Serikat, pada dasawarsa pertama abad ke-20 timbul dua gerakan realis yang kuat, yaitu new realism atau neorealisme dan critical realism. Neorealisme adalah serangan terhadap idealisme dan critical realism adalah kritik trhadap idealisme dan neorealisme. Pembicaraan dipusatkan di sekitar problema teknik dari epistimologi dan metafisik. Dasawarsa pertama dari abad ke-20 adalah periode gejolak intelektual. Pada tahun 1910 muncul enam orang guru filsafat di Amerika Serikat. Mereka membentuk suatu kelompok pada tahun 1912 dan menerbitkan bersama suatu buku dengan judul The New Realism.
Kelompok Neorealis menolak subyektivisme, monisme, absolutisme (percaya kepada sesuatu yang mutlak dan yang tanpa batas), segala filsafat mistik dan pandangan bahwa benda-benda yang non-mental itu diciptakan atau diubah oleh akal yang maha mengetahui. Mereka mengaku kembali kepada doktrin common sense tentang dunia yang riil dan obyektif dan diketahui secara langsung oleh rasa indrawi. "Pengetahuan tentang suatu obyek tidak mengubah obyek tersebut". Pengalaman dan kesadaran kita bersifat selektif dan bukan konstitutif; ini berarti bahwa kita memilih untuk memperhatikan benda-benda tertentu lebih daripada yang lain; kita tidak menciptakan atau mengubah benda-benda tersebut hanya karena kita mengalaminya. Sebagai contoh, kata "ada satu kursi di ruangan ini" tidak akan dipengaruhi oleh adanya pengalaman kita atau tidak adanya pengalaman kita tentang kursi tersebut. Kelompok neorealis menerangkan bahwa di samping keyakinan-keyakinan pokok ini, tidak terdapat suatu pun filsafat hidup yang memadai, atau suatu jawaban yang pasti tentang pertanyaan mengenai soal-soal seperti akal, kemerdekaan, maksud dan 'yang baik'. Walaupun begitu, beberapa pemikir telah menyusun filsafat yang lengkap dari aliran new realism.[10]
Selama dasawarsa 1910-1920 ada tujuh orang yang membentuk suatu filsafat yang agak berlainan. Pada tahun 1920, mereka menerbitkan buku dengan judul Essays in Critical Realism. Walaupun mereka itu setuju dengan kelompok neorealis, bahwa eksistensi benda itu tidak bersandar kepada pengetahuan tentang benda tersebut, mereka mengkritik neorealis karena mengadakan hubungan antara obyek dan pengamat; dan hubungan itu sangat langsung. Kelompok critical realist tidak berpendapat bahwa kesadaran atau persepsi tentang benda-benda itu bersifat langsung dan tanpa perantara sebagai yang dikira oleh kelompok neorealis.
Benda-benda di luar kita sesungguhnya tidak berada dalam kesadaran kita; yang ada dalam kesadaran kita hanya data rasa (gambaran-gambaran mental). Data rasa menunjukkan watak dari dunia luar serta watak dari akal yang mempersepsikan. Kita tidak bisa melangkah lebih jauh dari data rasa kepada obyeknya kecuali dengan jalan inference. Dengan begitu maka kita mempuyai, pertama, akal yang mempersepsi, orang yang mengetahui atau organisme yang sadar. Kedua, obyek dengan kualitas primer. Ketiga, data rasa yang Kelompok critical realist mengira bahwa data rasa memberi kita hubungan langsung dengan obyek. Indra sering menunjukkan obyek-obyek dan dengan begitu indra itu menjelaskan kepada kita watak dari dunia luar. Lebih jauh, kelompok critical realist percaya bahwa pendekatan ini memungkinkan kita untuk memahami dan menjelaskan ilusi, halusinasi, dan kesalahan-kesalahan lain karena data rasa dapat keliru.
Kelompok realis membedakan antara obyek pikiran dan tindakan pikiran itu sendiri. Pada umumnya, kaum realis menekankan teori korespondensi untuk meneliti kebenaran pernyataan-pernyataan. Kebenaran adalah hubungan erat putusan kita kepada fakta-fakta pengalaman atau kepada dunia sebagaimana adanya. Kebenaran adalah kepatuhan kepada realitas yang obyektif. Seorang realis menyatakan, ia tidak menjauhkan diri dari fakta yang nyata. ia menekan kemauan-kemauan dan perhatian-perhatiannya dan menerima perbedaan dan keistimewaan benda-benda sebagai kenyataan dan sifat yang menonjol dari dunia. Ia bersifat curiga terhadap generalisasi yang condong untuk menempatkan segala benda di bawah suatu sistem.
Kebanyakan kaum realis menghormati sains dan menekankan hubungan yang erat antara sains dan filsafat. Tetapi banyak di antara mereka yang bersifat kritis terhadap sains lama yang mengandung dualisme atau mengingkari bidang nilai. Sebagai contoh, Alfred North Whitehead yang mencetuskan 'filsafat organisme'. Ia mengkritik pandangan sains yang tradisional yang memisahkan antara materi dan kehidupan, badan dan akal, alam dan jiwa, substansi dan kualitas-kualitas. Pendekatan semacam itu mengosongkan alam dari kualitas indra dan condong untuk mengingkari nilai etika, estetika dan agama. Metodologi Newton menyebabkan sukses dalam sains fisik akan tetapi menjadikan alam tanpa arti dan tanpa nilai; banyak orang yang mengatakan bahwa nilai dan ideal adalah khayalan belaka dan tidak mempunyai dasar yang obyektif. Sikap semacam itu adalah akibat abstraksi dan penekanan beberapa aspek realitas serta menganggap sepi aspek-aspek lain. Whitehead menamakan proses abstraksi ini fallacy of misplaced concretness. Hal ini terjadi jika seseorang memperhatikan suatu aspek dari benda dan menganggapnya sebagai keseluruhan. Dengan cara ini, maka garis-garis yang arbitrair (sewenang-wenang) digambarkan antara apa yang dianggap penting oleh penyelidik dan apa yang ia ingin untuk mengusulkan sebagai tidak benar.




[1] Harold H.Titus, dkk, living in philosophy. PT. Bulan Bintang. Jakarta . hal 315-329
[2] Harold H.Titus, dkk, living in philosophy. PT. Bulan Bintang. Jakarta . hal 330
[3] Imron. S.Ag. M.A, filsafat umum,Noer fikri offset,Palembang, hal 56-57
[4] Wahyu murtiningsih,para filsuf dari plot sampai ibnu bajjah,IRCiSoD, Jogjakarta, hal 56
[5] Imron. S.Ag. M.A, filsafat umum,noer fikri offset,Palembang, hal 58
[6] Wahyu murtiningsih,para filsuf dari plot sampai ibnu bajjah,IRCiSoD, Jogjakarta, hal 54-55
[7] Imron. S.Ag. M.A, filsafat umum,noer fikri offset,Palembang, hal 59-60
[8] Imron. S.Ag. M.A, filsafat umum,noer fikri offset,Palembang, hal 62-63

[9] Atang abdul hakim. Filsafat umum dari metologi sampai teofilosofi. CV.Pustaka Setia,Bandung hal:226
[10] Harold H.Titus, dkk, living in philosophy. PT. Bulan Bintang. Jakarta . hal 332

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking