Maandag, 17 Junie 2013

FILSAFAT ILMU



FILSAFAT ILMU

A.  Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat adalah berpikir dan mersa sedalam-dalamnya terhadap segala sesuatu. Filsafat juga melakukan hubungan erat dengan penyelidikan terhadap nilai atau martabat dan tindakan manusia. Tidak hanya itu, filsafat juga menelaah hal-hal yang menjadi objeknya dari sudut intinya yang mutlak, mendalam tapi tidak berubah. Karena begitu luasnya kajian filsafat, maka banyak filosof yang berbeda dalam mengertikan filsafat.
Filsafat ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaiknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang dominan. Perubahan dari pola pikir mite-mite kerasio membawa implikasi yang tidak kecil. Alam dengan segala gejalanya, yang selama itu ditakuti kemudian didekati dan bahkan bisa di kuasai. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik alam semesta maupun pada manusia sendiri.[1]
Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa para ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, diantaranya:
·         Robert Ackerman “Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat- pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara actual”.
·          Lewis White Beck “Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan”.
·          A. Cornelius Benjamin “Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode- metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual”.
·         Michael V. Berry “Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah”.
·         May Brodbeck “Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.
·         Peter Caws “Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori- teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan- landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan”.
·          Stephen R. Toulmin “Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur- prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika”.

B.  Fungsi Filsafat
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni : Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Sedangkan Ismaun mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu danmembekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory ofexplanation yaitu berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.
C.  Objek Filsafat
·         Objek Material filsafat yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan ituatau hal yang di selidiki, di Pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
Menurut Drs. H.A.Dardiri bahwa objek material adalah segala sesuatu yang ada, baik yangada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Segala sesuatuyang ada itu di bagi dua, yaitu: Ada yang bersifat umum (ontologi), yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya. Ada yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara mutlak (theodicae) dan tidak mutlak yang terdiri dari manusia (antropologi metafisik) dan alam (kosmologi).
·         Objek Formal filsafat yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukanpengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot.Contoh : Objek materialnya adalah manusia dan manusia ini di tinjau dari sudut pandanganyang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antaranyapsikologi, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya.
D.  Subtansi Filsafat
Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) Memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan, fakta atau kenyataan.[2]
1.      Fakta dan kenyataan
Fakta atau kenyataan Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandangfilosofis yang melandasinya. Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.
Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan faktailmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyekkegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksiterhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsifakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis.Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan daribahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuksuatu deskripsi ilmiah.
2.      Kebenaran (Truth)
Kebenaran (truth) Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional. Kita mengenal lima teori kebenaran yaitu Koherensi, Korespondensi dan Pragmatic, Proposisi dan Paradikmatic diantarannya:
·         Kebenaran Koherensi kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang laindengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baikberupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional maupun pada dataran transendental.
·         Kebenaran Korespondensi Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevandengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atauberlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik.
·         Kebenaran pragmatic Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.
·          Kebenaran Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentangdari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bilaproposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuaidengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwaproposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benarmaterialnya.
·         Kebenaran struktural paradigmatic sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan darikebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisisstatistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya.Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akanmampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.
Konfirmasi Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, ataumemberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi,postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bilamengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksiatau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif,deduktif, ataupun reflektif.
Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yangdipercaya dengan fakta. Belief pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik. Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional, koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral.
Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadji rmengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan structural paradigmatik moral transensden. Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulanbaru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu,yakni berdasarkan logika. Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika induksi dan logika deduksi.



[1] Ismaun, Filsafat Umum. Yogyakarta: Indonesia Tera. 1982 hal. 142
[2] Sirajuddin zar, filosof dan filsafatnya. Jakarta: Raja wali Pers. 2012 hal.84

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking