Maandag 17 Junie 2013

FILSAFAT EPISTEMOLOGI


                                              FILSAFAT EPISTEMOLOGI


Istilah epistemologo dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah theory of knowledge. Epistemologi berasal dari asal kata episteme dan  logos. Episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan lain disebutkkan bahwa epistemology adalah cabang filsafat yang mempelajari cara memperoleh pengetahuan.
            Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structur, methods, and validity of knowlege. Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah filsafat pengetahuan karena ia membicarakan hal pengetahuan. Istilah epistemology untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F Farrier pada tahun 1854.
            Menurut teori pengetahuan epistemologi pengetahuan manusia ada tige macam, yaitu pengetahuan Sains, pengetahuan Filsafat, dan pengetahuan Mistik. Pengetahuan itu diuperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa alasan yang beberapa tentang ini :
1.      Empirisme
Kata ini berasal dari kata Yunani empirikos yang berasal dari kata emperia, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Sebagai tokohnya adalah Thomes Hobbess, Jhon Lock, dan David Hume. Karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya, panndangan orang terhadap filsafat merosot. Hal ini terjadi karena filsafat tidak berguna lagi bagi kehidupan. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan besar sekali manfaatnya bagi kehidupan.




2.      Rasionalisme
Rasionalisme dipelopori  oleh Rene Descartes (1596-1650) yang disebut bapak filsafat modern. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hokum, dan ilmu kedokteran. Ia menyatakan, bahwa ilmu pengetahuan harus satu, tanpa bandingannya, harus disusun oleh satu orang, sebagai bangunan yang berdiri sendiri menurut satau metode yang umum. Yang harus dipandang sebagai hal yang benar adalah apa yang jelas dan terpilih-pilih (clear and distinctively). Ilmu pengetahuan harus mengikuti langka ilmu pasti karena ilmu pasti dapat dijadikan model cara pengenal secara dinamis.[1]
3.      Positivisme
Filsafat positivism lahir pada abad ke-19. Titik tolak pemikirannya, apa yang telah diketahui adalah yang factual dan yang positif, sehingga metafisika ditolaknya. Maksud fositif adalah segala kejala dan segala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman objektif. Tokoh alitan ini adalah August Comple (1798-1857) menurut pendapatnya, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap yaitu:
1.      Tahap teologi
2.      Tahap metalisis
3.      Tahap ilmiah atau positif.[2]

4.      Intuisionisme
Menurut Henri bergson (1859-1941), ia menganggap tidak hanya indera terbatas, akal juga terbatas. Akal hanya dapat  memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu. Akal hanya mampu memahami bagian-bagian dari objek, kemudian bagian-bagian itu digabunngkan oleh akal. Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal seperti diterangkan di atas, bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Ini adslah hasil evolusi pengembangan yang tingggi. 
Landasan epistemologi ilmu, tercermin secara operasional dalam metode menyusun pengetahuannya berdasarkan:
a.       Kerangka pemimpinan yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b.      Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebuut.
c.       Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termasuk untuk menguji kebenaran pernyataan secara factual.
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan penjelasan terhadap fenomena alam. Verfikasi secara empiris berarti evaluasi secara objektif dari suatu pernyataan hipotensis terhadap kenyataan faktual.
Epistemologi atau teori  pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengendaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[3]
Metode empiris yang telah dibuka oleh Aristoteles mendapat samburan yang benar pada zanam Renaisans dengan tokoh utamanya Francis Bacon (1561-1626). Dua  diantara karya-karya yang menonjol adalah the advancement of learning (1606) dan Novum Orgoaum (organum baru).
            Filsafat Bacon mempunyai peran penting dalam metode industri dan sistematisasi prosedur ilmiiah menurut Russel, dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuuk member kekuasaan pada manusia atas alam melalui penyelidikan ilmiah. Bacon mengkitik filsafat Yunani yang menurutnya lebih menekankan perenungan dan akibatnya tidak mempunyai praktis bagi kehidupan manusa. Ia menyatakan, “the great mistake of greek philosophers was the spent so much time in theory, so little in observation”.
Karena itu, usaha yang ia lakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan tidak akan mengalami perkembangan dan tidak akan bermakna kecuali ia mempunyai kekuasaan yang dapat membantu manusia meraih kehidupan yang lebih baik, “knowledge is power, it is not opinion to be held, but a work to be done, I am laboring to lay the foundation not of any sector of doctrine, bun of utility and power”.
Bagi Descartes (1596-1650 M), persoalan dasar dalam filsafat pengetahuan bukan bagaimana kita tahu, tetapi mengapa kita dapat membuat kekeliruan? Salah satu cara untuk menentukan sesuatu yang pasti dan tidak dapat diraguakn ialah dengan melihat seberapa jauh hal itu bias diragukan. Bila kita secara sistematis mencoba meragukan sebanyak munngkin pengetahuuan kita, akhirnya kita akan mencapat titik yang tak bias diragukan sehingga mengetahui kita dapat dibangun di atas kepastian absolut.
Prosedur yang disarankan Descartes untuk mencapai kepastian ialah keraguan metodis universal, keraguan ini bersifat universal karena direntang tanpa batas, atau sampai keraguan ini membatasi diri. Artinya usaha menragukan itu akan berhenti bila ada sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi. Usaha meragukan ini disebut metodik karena keraguan yang diterapkan disini merupakan cara yang digunakan oleh penalaran reflektif filosofi untuk mencapai kebenaran.
Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, di antaranya adalah:
1.      Metode Induktif
Industry yaitu suatu metode yang menyimpulkan penyatan-penyataan dari hasil obserfasi disimpulkan dalam suatu ppernyataan yang lebih umum.[4] Dan menurut suatu pandangan yang luas diterima,, ilmu-ilmu empiris ditandai oleh metologi induktif, suatu inferensi bias disebut induktif bila bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal, seperti gambaran mengenai hasil pengembangan dan penelitian orang sampai pada pernyataan-pernyataan universal.
2.      Metode Deduktif
Deduktif ialah suatu metode yang menyimppulkan bahwa data-data empiric diolah lebih lanjut dalam suatu system pernyataan yang runtut.[5] Hal  yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandinagan logis antara kesimpulam-kesilpulan itu sendiri. Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empisis kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.
3.      Metode positivism
Metode ini dilakukan oleh August Comte (1798-1857). Metode ini berpangkaldari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia menyampaikan segala uraian/ persoalan yang di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif. Adalah segala yang tampak dan segala yang gejala. Dengan demikian metode ini dapat dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap: teologi, metafisis, dan positif. Pada tahap teologis, orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu tersirat pernyataan kehendak khusus.
4.      Metode kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihailkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akall yang disebuat dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali.
5.      Metode Dialektis
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode Tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat.[6] Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi ligika. Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan  metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.
Dalam kehidupan sehari-hari  dialektika berarti kecakapan untuk melakukan pendekatan. Dalam teori pengakuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.
Hegel menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya, lebih luas dari itu, menurut Hegel dalam realitas ini berlangsung dialektika. Dan dialektika di sini berarti mengompromikan hal-hal yang berlawanan seperti:[7]
v  Dictator, di sini manusia diaatur dengan baik, tetapi mereka tidak punya kebebasan (tesis)
v  Keadaan diatas menampilakan lawannya, yaitu Negara anarki (anti tesis) dan warga Negara mempunyai kebebasan tanpa batas, tetapi hidup dalam kekacauan.
v  Tesis dan anti tesis ini disintesis, yaitu Negara demokrasi. Dalam bentuk ini kebebasan warga dibatasi oleh undang-undang dan hidup masyarakat tidak kacau.

Dalam bidang filsafat, Descartes mewariskan suatu metode berpikir yang menjadi landasan berpikir dalam ilmu pengetahuan modern. Langka-langka tersebut adalah:[8]
1.      Tidak menerima apapun sebagai hal yang besar, kecuali kalu diyakini senndiri bahwa itu memang besar.
2.      Memilih-milih masalah menjadi bagian-bagian terkecil untuk mempermudah penyelesaian.
3.      Berpikir runtut dengan mulai dari hal yang sederhana sedikit demi sedikit untuk mencapai ke hal yang paling rumit.

Sedangkan perkembangan ilmu pengetahuan di zaman kontemporer di tandai dengan berbagai teknologi canggih. Teknologi dan informmasi terhasuk salah satu yang mengalami kemajuan yang pesat. Mulai dari penemuan computer, satelit komunikasi, internet, dan lain-lain. Manusia dewasa ini memiliki mobilitas yang begitu tinggi, karena pengaruh teknologi komunikasi dan informasi.
Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesan, sehingga terjadi spesialisasi-spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuan kontemporer mengetahui hal yang sedikit tetapi secara mendalam. Ilma kedokteran pun semakin menajam dalam spesialis dan subspesislis. Demikian bidang-bidang ilmu lain di samping kecendrungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga di hasilkan dihasilkannya budang ilmu baru seperti bioteknologi dan psikolinguistik.[9]













[1] Achmadi Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: Rajawali Press, 2010, Hlm.115
[2] Achmadi Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: Rajawali Press, 2010: 121
[3] Dw. Hamlyn, History of Epistemology, dalam Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosophy, 1967, hlm 9.
[4] Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta:Liberty, 1996), hlm. 109.
[5] Ibid.
[6] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hlm.125.
[7] Ahmad Tafsir, Filasfat Umum; Akal Dan Hati; Thales Sampai Capra, (Bandung: Remaja Posdakarya, 1990), hlm. 153
[8] Tim Dosen Filsafat Ilmu, op.cit. hlm. 48.
[9] Ibid., hlm. 52. 

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking